Mentari yang jatuh semakin dalam, menjatuhkan mega-mega merah. Merekah bagai mawar yang tumbuh dipekarangan rumah. Bulir pasir berubah menjadi emas, mengkilau terang berbinar-binar. Terus menyorot kala hitam yang sudah pucat. Terpapar sinar senja yang membuat rongga-rongga kecil.
Semakin dalam, semakin menjadikannya kelabu. Menusuk tanpa batas dan rasa. Hitam-hitam semakin mengabu. Bertebaran terbang disekitaran rasa. Sehingga kabut-kabut ketidakpastian itu menjadi pasti. Perlahan, pasti dan pasti.
Senja semakin menuju akhir. Tanpa aba-aba dia turun semakin dalam. Hingga bulatnya makin tidak sempurna. Merah gagahnya berubah menjadi jingga. Hingga perlahan kegelapan mulai menyelimuti kembali. Perlahan, tenang, tapi pasti. Semakin gelap.
Dan, abu-abu itu kembali mengeras. Hujan kerikil berjatuhan pada pasir-pasir emas. Kembali menjadi kala, hitam pekat menyesakkan. Tanpa perhitungan pasti, senja sudah pergi ditelan bumi. Bersama rasa tenang yang hilang. Kembali menyelimuti hati yang kembali hilang harapan.