Rabu, 28 Oktober 2026

Senja Hilang Bersama Harapan

Kala hitam terpapar cahaya senja, rasa tenang itu nyata. Didampingi segudang asa yang kembali tumbuh. Kembali menatap tenang dalam lamunan. Kembali perlahan dengan tenang. Terasa dalam semakin kelam.

Mentari yang jatuh semakin dalam, menjatuhkan mega-mega merah. Merekah bagai mawar yang tumbuh dipekarangan rumah. Bulir pasir berubah menjadi emas, mengkilau terang berbinar-binar. Terus menyorot kala hitam yang sudah pucat. Terpapar sinar senja yang membuat rongga-rongga kecil.

Semakin dalam, semakin menjadikannya kelabu. Menusuk tanpa batas dan rasa. Hitam-hitam semakin mengabu. Bertebaran terbang disekitaran rasa. Sehingga kabut-kabut ketidakpastian itu menjadi pasti. Perlahan, pasti dan pasti.

Senja semakin menuju akhir. Tanpa aba-aba dia turun semakin dalam. Hingga bulatnya makin tidak sempurna. Merah gagahnya berubah menjadi jingga. Hingga perlahan kegelapan mulai menyelimuti kembali. Perlahan, tenang, tapi pasti. Semakin gelap.

Dan, abu-abu itu kembali mengeras. Hujan kerikil berjatuhan pada pasir-pasir emas. Kembali menjadi kala, hitam pekat menyesakkan. Tanpa perhitungan pasti, senja sudah pergi ditelan bumi. Bersama rasa tenang yang hilang. Kembali menyelimuti hati yang kembali hilang harapan.

Rabu, 21 Oktober 2026

Somnolentia

Jiwa ini memaparkan kegelisahannya dalam diam. Memaksa terus berjalan dengan rasa yang tidak terpikirkan. Entah kenapa sebutan itu terus terngiang mengekang. Sembari melepas api yang makin menjadi. Ketulusan serasa telah menepi. Berganti mimpi yang makin bergejolak.

Rapuhnya luka yang silih berganti, menjadi saksi bahwa tenang ini sudah hilang. Penglihatan semakin samar sama sekali. Untuk bertahan dengan kepingan mimpi. Terus terbawa dalam arus malam. Seakan gelap inilah yang selalu memeluk. 

Tapi hati tetap mengobati. Merasa pahit dibuang masa. Jalanan ini terdengar sunyi lagi. Keturutsertaan api menjadikannya merah membara. Sedikit sumbu yang membakar dari jauh hari. Kini mendekat dengan tidak selamat.

Laju waktu yang tidak berhenti. Menambah beban untuk seorang puitis. Merasa asa itu bangkit kembali. Dengan kerlip kerlip bintang yang sudah basi. Tertanam pasi pucat tak pernah terisi. Semakin sunyi semakin sepi.

Akhirnya raga ini memenuhi. Berat terasa semakin menjadi. Rasa-rasa terbang melayang semakin tinggi. Apakah harus dimulai dari sini? Ketenangan terusik sedikit berlebihan. Terbuai angan untuk dapat mimpi lagi.

Menyerah bukan alasan, tapi ini sudah kewajiban.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Pandangan Mimpi

Kelam terdalam merenggut asa yang sudah ada. Memaknai setiap pijakan dengan keputusasaan yang semakin pudar. Hasutan terus menekan rasa menjalar ke setiap makna. Hampir musnah mustahil sama sekali. Apakah harus menyerah?

Kesendirian datang bersama gelap. Tenang, sunyi, terhasut sepi. Sentuhan malam meniupkan sakit tak terukur. Sekat-sekat bayangan menyirat dalam pikiran. Hapus pergi atau berdiri menantang mimpi?

Satu per satu sayatan terbuka lagi. Menyimpan rekam terlihat penuh sesak. Seruan habis berteriak makin kencang. Berputar-putar tak terhenti. Berat ringan kini tak lagi berarti. Adakah api yang akan menyinari?

Helaan angin makin menjadi. Bukan berarti tanpa arti.  Gaung-gaung mimpi terbawa terbang pergi. Tanpa kendali memudar semakin pergi. Merasa diri kini akan menepi. Haruskan dibuat mati?

Dengan sisa harapan yang belum pergi, genggaman itu semakin erat. Menatap dengan sorot teramat pedih. Tanpa suara dengung kencang, mendengar kosong itu semakin menekan. Kelam, dalam, memekakan. Kebetulan itu seperti diciptakan. Memopang pola yang kini kusut. Tak beraturan seperti mimpi kemarin.

Untuk harapan besok yang kembali, tolong katakan pada malam, jangan datang dengan belati kesakitan itu lagi.