Rapuhnya luka yang silih berganti, menjadi saksi bahwa tenang ini sudah hilang. Penglihatan semakin samar sama sekali. Untuk bertahan dengan kepingan mimpi. Terus terbawa dalam arus malam. Seakan gelap inilah yang selalu memeluk.
Tapi hati tetap mengobati. Merasa pahit dibuang masa. Jalanan ini terdengar sunyi lagi. Keturutsertaan api menjadikannya merah membara. Sedikit sumbu yang membakar dari jauh hari. Kini mendekat dengan tidak selamat.
Laju waktu yang tidak berhenti. Menambah beban untuk seorang puitis. Merasa asa itu bangkit kembali. Dengan kerlip kerlip bintang yang sudah basi. Tertanam pasi pucat tak pernah terisi. Semakin sunyi semakin sepi.
Akhirnya raga ini memenuhi. Berat terasa semakin menjadi. Rasa-rasa terbang melayang semakin tinggi. Apakah harus dimulai dari sini? Ketenangan terusik sedikit berlebihan. Terbuai angan untuk dapat mimpi lagi.
Menyerah bukan alasan, tapi ini sudah kewajiban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar